Keajaiban Sekeping Coklat

Gooo | 9:02 AM | 0 comments

Sebuah studi yang dilakukan Universitas Johns Hopkins, Amerika, pecinta atau penggila coklat dalam penelitian berkaitan dengan penyakit jantung dan aspirin, memberikan hasil mengejutkan dengan pertanyaan “mengapa dengan sedikit asupan coklat setiap hari, risiko serangan jantung bisa turun?”

Jawabanya adalah coklat. Ya, makanan dewa ini memiliki sifat serupa dengan aspirin, karena memiliki dampak yang bisa membuat keping darah (platelet) butuh waktu lebih lama untuk mengalami penggumpalan dan bisa menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah sehingga menimbulkan serangan jantung, seperti yang dijelaskan Diane Becker dan rekan-rekannya dari Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, seperti dilansir dari reuters, kamis (16/11).

“Hasil yang ditunjukan kelompok pecinta coklat adalah senyawa kimia dalam biji coklat memiliki efek sebanding dengan aspirin dan diketahui bisa mengurangi daya keping darah untuk menggumpal yang akan menyebabkan kondisi fatal apabila terjadi penyumbatan dan menghentikan atau memperlambat aliran darah yang dapat menyebabkan serangan jantung,” tambah Becker.

Sebanyak 139 orang penggila coklat ikut serta dalam penelitian dengan melibatkan 1.200 orang dengan catatan medis keluarga mereka yang mengidap penyakit jantung. Penelitian ini mempelajari dampak aspirin terhadap keping darah.

Sebelum memperoleh aspirin mereka diminta mematuhi aturan secara ketat seperti berolah raga secara teratur, tak merokok, dan menghindari minuman berkafein, beralkohol, jus anggur dan minum atau makan –makanan yang terbuat dari coklat.

Coklat dan beberapa jenis makanan terbuat dari bahan yang ditemukan oleh suku Maya asli Indian di Amerika Latin bagian tengah itu, terbukti memiliki dampak terhadap keping darah sama halnya dengan aspirin yang bisa memperlambat proses pengumpulan keping darah dan menyebabkan penyumbatan dalam pembuluh darah yang akhirnya memicu serangan jantung.

“Kita tahu sebagian dari kelompok penggila coklat pasti akan melanggar aturan yang satu itu, karena beberapa di antara mereka mengatakan, kepada kami, “saya bersedia melakukan apa saja tapi tak mungkin berpisah dari coklat, sebagian lain di antara mereka mengatakan “Ya saya akan berbuat sebaik mungkin”.

Para dokter yang melakukan penelitian tersebut mengatakan, “Baiklah, berusahalan sebaik mungkin tapi yang penting jangan makan coklat selama 24 hingga 48 jam sebelum Anda ikut tes uji dalam penelitian.”

Beberapa orang terbukti gagal untuk melewati tes karena tak bisa mengendalikan diri dan mematuhi aturan. “Tak ada seorangpun yang menikmati coklat masih dalam bentuk butir atau bubuk, kalau mereka para penggila coklat ingin menikmatinya maka pasti mereka memilih dalam bentuk kue bertabur coklat dengan potongan-potongan coklat di dalamnya,” kata Becker.

Becker tidak melibatkan sejumlah pengila coklat yang melanggar aturan pertama, yaitu pantangan dalam penelitian dampak aspirin terhadap keping darah namun ia dan teman-temannya tetap meneliti darah para pengila coklat.

Para dokter yang meneliti mempelajari sempel keping darah dari kedua kelompok melalui mekanisme system peredaran darah yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengetahui berapa lama waktu dibutuhkan untuk sempel keping darah yang dimasukkan ke dalam tabung plastik tipis menjadi menggumpal.

Keping darah kelompok penggila coklat membutuhkan waktu lebih lama untuk menggumpal dibandingkan dengan keping darah diluar kelompok itu, Becker menceritakan hasil temuannya di depan pertemuan ahli jantung di Chicago.

Dari hasil tes urine para penggila coklat memiliki tingakat thromboxane (hasil buangan keping darah) lebih rendah.

“Apakah hal itu bermanfaat bagi kondisi jantung? Ya, tapi hal itu tak lebih dari dampak satu butir aspirin sehari,” jelasnya.

Meski sangat yakin coklat bermanfaat bagi kondisi jantung, hal itu takk lebih dari dampak satu butir aspirin sehari. Namun Becker dan tim tetap ingin mempelajari dan meneliti lebih lanjut dampak dari kebiasaan mengkonsumsi coklat dalam sekelompok masyarakat bebas.

Becker dan rekannya akan mencatat berapa banyak jumlah coklat dalamkelompok itu, makan dan kemudian akan memantau dalam beberapa tahun untuk melihat apakah para penggila coklat memiliki tingkat catatan serangan  jantung, stroke dan operasi jantung yang berbeda dengan kelompok non-penggila coklat.

Studi lainnya mengatakan, bahwa coklat hitam yang rasanya manis agak pahit memiliki manfaat lebih besar bagi kesehatan jantung dibandingkan dengan coklat yang memiki kadar gula dan lemak tinggi. [Banjarmasin Post, 4/12/06]

Category:

About Gaya-HidupMu.Blogspot.com:
Kami mneyediakan informasi mengenai tips seputar gaya hidup modern untuk Anda

0 comments