Ngorok Belum tentu Nyenyak
Ada anggapan, kalau seseorang mengorok, pasti tidurnya nyenyak. Anggapan itu sebenarnya keliru.
Tidur mengorok justru bisa membuat otak kekurangan oksigen. Pada tidur normal, otot yang mengontrol lidah dan langit-langit mulut bekerja mempertahankan terbukanya saluran napas.
Bila otot-otot pengontrol ini mengalami relaksasi, saluran napas menjadi lebih sempit, sehingga menghalangi aliran udara yang masuk. Pada saat menarik napas, bagian tenggorokan yang lunak bergetar dan akibatnya timbul suara mengorok. Bila relaksasi ototnya berlebihan, saluran udara bisa tertutup seluruhnya. Akibatnya, orang yang mengalaminya menjadi sulit bernapas. "Jika terjadi berkali-kali, gangguan ini disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA)," ujar dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, Spesialis saraf di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading.
Hambatan aliran udara ini bisa terjadi antara 10 detik sampai dua menit, bahkan lebih lama. Kondisi ini mengakibatkan otak kekurangan oksigen, sehingga otak memerintahkan tubuh untuk bangun dan bernapas lagi. Hal ini terjadi meskipun orang yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Akibatnya, orang yang mengalami OSA tidak bisa tidur nyenyak, bangun tidur tidak segar, sakit kepala saat bangun, sepanjang hari terus mengantuk, tidak bergairah, dan sulit berkonsentrasi. OSA bisa menyerang segala usia. Pada anak akan menyebabkan pembesaran tonsil dan adenoid. Kebanyakan yang diserang OSA adalah lelaki setengah baya, atau mereka yang kegemukan (obesitas), terutama kelebihan lemak di sekitar leher.
OSA bisa pula menyebabkan hipertensi, serangan jantung, dan stroke. Pada saat terjadinya serangan, tekanan darah meningkat, denyut jantung tidak teratur. Bila berlarut-larut, bisa mengakibatkan hipertensi, kemungkinan penyakit jantung atau stroke. Untuk mengatasinya, dapat dicoba terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
CPAP bertujuan memberikan udara dengan tekanan tertentu lewat masker ketika tidur. Gambarannya seperti masker oksigen pilot pesawat tempur. Kalau cara tadi dan langkah-langkah medis lainnya belum juga berhasil mengubah keadaan, jalan terakhir terpaksa ditempuh, yakni operasi saluran napas bagian atas.
Tapi sekali lagi, operasi dilakukan jika sejumlah pengobatan medis sebelumnya gagal. [Banjarmasin Post, 8/05/06]
Category: Tidur


0 comments